Cari Blog Ini

Laman

Jumat, 24 Mei 2013

SISTEM STATUS DAN PELAPISAN MASYARAKAT SISTEM STATUS YANG BERUBAH


Praktikum ke-10                                                                                  Hari/tanggal    : Senin, 29 April 2013
MK Sosiologi Umum (KPM 130)                                Ruangan                      : 2.13

SISTEM STATUS DAN PELAPISAN MASYARAKAT SISTEM STATUS YANG BERUBAH
Runtuhnya Sistem Status Kolonial dalam Abad Kedua Puluh
W. F. Wertheim

SITUASI SOSIAL DUA KOMUNITAS DESA DI SULAWESI SELATAN
Mochtar Buchori dan Wiladi Budiharga

Iis Setiana/G34120092

Asisten        : 1. Bernardine Anita W.          / F24090072
 2. Pamila Adhi Annisa      / I14100064


Resume Bacaan 1

Sistem status bersendikan kelompok-kelompok suku bangsa, yang telah menyerahkan perdagangan kepada orang Timur Asing, tidak mempunyai pengaruh yang mendalam terhadap pola kemasyarakatan sebagaimana keadaannya di Jawa. Kemakmuran kebendaan yang dicapai oleh banyak petani dan pedagang telah menyebabkan masyarakat berjuang untuk memperoleh suatu prestise sosial yang sama dengan yang dimiliki ketua adat dan menuntut mereka memopunyai hak kawin (ius connubii) dengan ketua-ketua adat. Keresahan di daerah petani bukan hanya pengaruh dari kemiskinan sebagai petani sebagai akibat dimobilisasikannya hak milik tanah, tetapi juga disebabkan karena perlawanan yang dilakukan para petani yang baru saja menjadi kaya terhadap struktur tradisional. Pemerintah biasanya bertindak bukan hanya sebagai pelindung dari kekuasaan tradisional para ketua adat, tetapi juga dari perkebunan-perkebunan barat. Selain dari ukuran keagamaan, kesejahteraan materi merupakan ukuran utama dalam menentukan prestise kemasyarakatan, lebih-lebih di daerah adat. Pendidikan juga mempunyai pengaruh dinamis si pulau-pulau luar Jawa, walaupun tidak sehebat di Jawa.
Bertambah meluasnya ekonomi uang dengan meningkatnya hubungan dengan Barat telah menyebabkan timbulnya lapangan pekerjaan baru. Kelas bumiputera yang baru mendobrak susunan masyarakat tradisional lama dan melakukan pengaruh yang bersifat individual. Namun di Jawa, pengaruh faktor ini seluruhnya terlindung oleh cara tradisional masyarakat. Pendidikan mempunyai pengaruh pula terhadap prestise kemasyarakatan, terutama kewibawaan orang tua. Pendidikan telah menciptakan suatu kelas baru kaum cendekiawan atau setengah yang menduduki posisi khusus dalam masyarakat dengan pengakuan resmi berupa ijazah. Pengetahuan bahasa juga telah terlibat dalam penentuan prestise kemasyarakatan. Tetapi kendatipun demikian,  usaha memburu ijasah juga membuat orang menjadi individualistis. Pendidikan juga telah bertindak sebagai dinamit terhadap sistem kasta kolonial. Persaingan tang semakin hebat dalam masyarakat menyebabkan para anggita kaum borjuis mempersatukan barisan untuk mencapai solidaritas kelompok.
Di pihak lain, di kalangan orang-orang Indonesia terdapat kecenderungan yang lebih besar untuk mengadakan persatuan dengan kesadaran bangsa yang semakin meningkat. Kaum wanita dan pemuda sering dapat meraih prestise sosial untuk diri mereka yang pada hakekatnya brtentangan dengan gagasan Indonesia tradisional. Orang Cina juga tidak lagi memegang monopoli dalam perdagangan. Banyak orang-orang Cina yang menurun derajat. Mereka mencari keselamatan diri dengan mengadakan solidaritas yang lebih kuat. Kedudukan istimewa orang Eropa dan Cina sebagaimana halnya dengan kaum bangsawan menjadi amat kurang stabil. Terdapat kecenderungan yang kuat ke arah sistem nilai baru berdasarkan kemakmuran individu dan kemampuan intelektual seseorang, tetapi pada umumnya masih ditahan, baik oleh sisa-sisa struktur feodal maupun kolonial.

Resume Bacaan 2

Terdapat tiga lapisan pokok dalam masyarakat di Desa Maricaya Selatan yaitu pertama, golongan penjabat dan kelompok profesional yang menduduki lapisan atas. Kedua, golongan ulama, pegawai dan pedagang yang menduduki lapisan menengah. Ketiga, golongan buruh yang menduduki lapisan bawah. Dilihat dari segi ekonominya, lapisan atas merupakan lapisan berekonomi mampu, lapisan menengah merupakan lapisan ekonomi menengah, dan lapisan bawah merupakan lapisan ekonomi miskin. Dilihat dari latar belakang pendidikan, lapisan atas merupakan kelompok homogen. Anak-anak yang tidak bersekolah atau tidak tamat SD kemungkinan anak dari lapisan bawah. Anak-anak yang lulus SD dan tidak meneruskan ke SLTP kemungkinan besar anak-anak dari para buruh dan pedagang kecil di lapisan menengah. Sedang anak-anak yang lulus SLTA dan meneruskan ke perguruan tinggi adalah anak-anak dari lapisan atas. Masyarakat lapisan atas mempunyai TV masing-masing keluarga, pada lapisan sedang ada yang memiliki dan ada yang tidak, sedangkan lapisan bawah tidak ada keluarga yang memiliki TV. Mayoritas penduduk Marica Selatan beragama Islam, sisanya Protestan, Katolik, Hindu dan Budha.
Dalam masyarakat Polewali juga terlihat adanya tiga lapisan masyarakat, yaitu pertama, lapisan atas yang terdiri dari ulama, pemangku adat dan pejabat. Kedua, lapisan menegah yang terdiri atas kaum pedagang, dan ketiga, lapisan bawah yang terdiri atas kaum buruh. Dilihat dari ekonomi, lapisan atas merupakan lapisan orang kaya, lapisan menengah merupakan golongan sedang, sedangkan lapisan bawah merupakan golongan miskin. Berdasarkan kekuasaan, kekuasaan ekonomi berada di tangan orang Bugis, politik di tangan orang Makassar, kepemimpinan dalam keagamaan dipegang oleh orang Bugis dan Makassar. Masyarakat lapisan atas mengikuti gaya hidup "modern" dengan kesan yang mewah, sedangkan lapisan menengah mengikuti gaya hidup sederhana. Bagi masyarakat lapisan masyarakat atas, haji merupakan suatu atribut keagamaan yang harus mereka beli untuk meningkatkan martabat sosial. Pada taraf perkembangan sekarang ini, masyarakat Polewali tampak sebagai suatu masyarakat yang lebih bersifat inward looking. Koran dan TV hanya dimiliki lapisan atas yang mengumpulkan simbol-simbol kemewahan "simbol-simbol modernitas".

Analisis Bacaan 1
  1. Dasar stratifikasi sosial

Point analisis
Penjelasan dan contoh
Dasar stratifikasi sosial
Ukuran kekayaan
Berdasarkan pendapatan, pendapatan orang Eropa   tertinggi, pendapatan orang Cina ditengah-tengah dan pendapatan orang Indonesia paling rendah.

Ukuran kekuasaan
Orang Eropa menguasai pemerintahan dan orang Cina menguasai perdagangan.
pada saat penjajahan,
Orang Belanda mempunyai kekuasaan untuk memonopoli perdagangan di lanjutkan oleh orang Cina, Arab dan Indo.

Ukuran kehormatan
Para pemuka adat, pemimpin agama, orang tua yang anaknya memperoleh pendidikan yang tinggi, serta cendekiawan merupakan lapisan atas.
Anak-anak para pemuka adat dan golongan atas mendapat kesempatan secara besar-besaran memperoleh fasilitas pendidikan

Ukuran ilmu-pengetahuan
Kaum cendekiawan yang memperoleh pendidikan merupakan lapisan tertinggi dalam masyarakat.
Orang-orang yang mendapatkan pendidikan dengan cara barat berkumpul dan mendapat pekerjaan di Jawa, orang yang memiliki keahlian baca tulis dapat menerima pendapatan yang relatif tinggi, orang pribumi yang mahir bahasa Belanda dijadikan tenaga administrasi pemerintah belanda.
Mobilitas sosial
1.Mobilitasosial horizontal
1.    Dimasukannya sejumlah kecil orang yang bekerja untuk pedagang lain ke dalam golongan yang lebih besar, yaitu orang yang bekerja di perdagangan, industri dan pengangkutan.
2.    Adanya perubahan status orang pribumi dari petani menjadi pedagang.
2. Mobilitas sosial vertikal
 a. Vertikal naik
 (social climbing)












b. Vertikal turun (social sinking)


1.    Diangkatnya orang-orang Indonesia menjadi pejabat yang tadinya merupakan hak istimewa orang Eropa.
2.    Para petani yang awalnya miskin baru saja menjadi kaya terhadap struktur tradisional.
3.    Para cendekiawan dan aristokrat membentuk suatu kelas 'priyayi baru yang akan menjadi lapisan tertinggi dalam masyarakat, orang yang memliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dalam masyarakat sehingga status sosialnya naik.

1. Melemahnya golongan Eropa dan menurunnya derajat orang Cina ke tingkat proleter.
2. Orang–orang cina yang awalnya memonopoli perdangan sekarang terdesak oleh orang eropa dan tidak menguasai perdagangan lagi.

Analisis Bacaan 2
Point analisis
Keterangan
Contoh
Desa Maricaya Selatan
Desa Polewali (semi urban)
Dasar stratifikasi sosoal
Ukuran kekayaan
Adanya lapisan berekonomi mampu (lapisan atas), lapisan ekonomi menengah (lapisan menengah), dan lapisan ekonomi miskin (lapisan bawah).
Adanya masyarakat golongan orang kaya (lapisan atas), golongan sedang (lapisan menengah), dan golongan miskin (lapisan bawah).

Ukuran kekuasaan
Masyarakat yang memilki kekayaan cenderung mempunyai kekuasaan yang lebih besar akibatnya masyarat golongan atas mempunyai kekuasaan yang lebih besar.
Kekuasaan ekonomi berada di tangan orang Bugis, politik di tangan orang Makassar, dan kepemimpinan dalam keagamaan dipegang oleh orang Bugis dan Makassar.

Ukuran kehormatan
Orang yang mendapat pendidikan dan gelar akan lebih di hormati.

Orang yang mempunyai barang-barang mewah yang di gunakan sebagai aspek simbolik akan lebih di hargai.

Ukuran ilmu pengetahuan
Anak-anak yang tidak bersekolah atau tidak tamat SD kemungkinan anak dari lapisan bawah. Anak-anak yang lulus SD dan tidak meneruskan ke SLTP kemungkinan besar anak-anak dari para buruh dan pedagang kecil di lapisan menengah. Sedang anak-anak yang lulus SLTA dan meneruskan ke perguruan tinggi adalah anak-anak dari lapisan atas.
pendidikan dianggap sebagai sarana untuk mendapatkan tempat terhormat dalam kehidupan.
Mobilitas sosial
Dalam bacaan tidak di jelaskan secara langsung mobilitas yang terjadi. Namun jika dilihat dari komunitas Maciraya Selatan, golongan mayoritas mencoba menerobos dinding antar golongan sehingga terbentuk pola pergaulan akrab dengan golongan minoritas. Dan juga mereka melakukan pergaulan sosial yang bersifat antar golongan sehingga hal ini bisa menimbulkan mobilitas vertikal. Komunitas Polewali sendiri, dilihat dari segi pendidikannya, masyarakat sadar akan pentingnya pendidikan agar mendapatkan tempat terhormat dalam kehidupan mereka di kemudian hari. Hali ini bisa menimbulkan mobilitas vertikal ke atas. Golongan menengah yang memperoleh pendidikan dan gelar mungkin berubah statunya menjadi golongan atas. Masyarakat golongan atas yang berfoya –foya mungkin akan jatuh miskin dan menempati posisi bawah.

SITUASI SOSIAL DUA KOMUNITAS DESA DI SULAWESI SELATAN

MK. Sosiologi Umum (KPM 130)                         Hari & Tanggal : Senin, 22 April  2013
Praktikum Ke:   9                                              Ruangan          : RK CCR 2.07


“SITUASI SOSIAL DUA KOMUNITAS DESA DI SULAWESI SELATAN”
Dena Santa Prasasti (B04120001)
Asisten: Kasfy Allama (I34100107)


Intisari bacaan 2
            Komunitas Maricaya Selatan terdiri dari 3 lapisan yang terdiri dari beberapa golongan. Tiga lapisan masyarakat yakni lapisan ekonomi mampu  dan lapisan atas yang terdiri dari golongan pejabat dan kelompok profesional (10%), lapisan ekonomi menengah dan lapisan sedang yang teridiri dari golongan alim ulama, pegawai, dan pedagang (60%), dan lapisan ekonomi miskin serta lapisan bawah yang terdiri dari golongan buruh (30%).
            Masyarakat Maricaya Selatan memandang pendidikan sebagai sesuatu yang penting dalam kehidupan mereka. Minat membaca juga cukup besar di kalangan masyarakat. Para golongan atas dan menengah memiliki perpustakaan pribadi, sebagai  memupuk pengetahuan serta untuk menimbulkan kesan bahwa pemiliknya seorang terpelajar.  Mayoritas penduduk juga Islam (75.6%) dan Protestan (20%) sisanya Hindhu dan Budha.
            Komunitas Desa Polewali terdiri dari kedudukan pemangku adat yang dipegang oleh seorang Bugis, sedangkan alim ulama ada ditangan orang Bugis dan orang Mandar. Kelompok pejabat dan pegawai terdiri dari orang Mandar dan Toraja. Secara ekonomi,  dapat diklasifikasikan masyarakat “kaya” (35%) terdiri dari pemangku ilama dan pejabat, “sedang” (55%) terdiri dari para pegawai dan pedagang, dan “miskin” terdiri buruh(10%).
            Terdapat perbedaan cukum mencolok dalam gaya hidup golongan tersebut. Para masyarakat “kaya” , pemangku ulama, hidup lebih lugas, sehingga mereka berhasil menyelesaikan tingkat pendidikan yang tinggi. Di kalangan masyarakat “kaya” pejabat gaya hidup mereka terkesan mewah dan mengikuti gaya hidup remaja di kota besar.  Sedangkan di kelas “sedang” lebih sederhana. Namun pendidikan dalam masyarakat ini adalah hal yang mereka junjung tinggi.
           







Analisis bacaan 2

1.Diagram stratifikasi masyarakat Maricaya Selatan
Miskin lapisan bawah
30%
Pejabat dan kelompok profesional
10 %
Lapisan atas dan kaya
 
Buruh


           
Ekonomi menengah
60%
Alim ulama, pegawai, pedagan
 



Ulama pemangku adat, pejabat
10%
Buruh
55%
Lapisan atas dan kaya
Miskin lapisan bawah
Ekonomi menengah
Pedagang
Diagram stratifikasi masyarakat Polewali

35%
 







2. Dalam bacaan “Situasi Sosial Dua Komunitas Desa di Sulawesi Selatan” tidak di jelaskan secara langsung mobilitas yang terjadi. Namun jika dilihat dari komunitas Maciraya Selatan, golongan mayoritas mencoba menerobos dinding antar golongan sehingga terbentuk pola pergaulan akrab dengan golongan minoritas. Dan juga mereka melakukan pergaulan sosial yang bersifat antar golongan sehingga hal ini bisa menimbulkan mobilitas vertikal. Komunitas Polewali sendiri, dilihat dari segi pendidikannya, masyarakat sadar akan pentingnya pendidikan agar mendapatkan tempat terhormat dalam kehidupan mereka di kemudian hari. Hali ini bisa menimbulkan mobilitas vertikal ke atas.
3. Masyarakat tanpa stratifikasi tidak mungkin terjadi, karena dalam masyarakat pasti slalu ada perbedaan,  dari perbedaan tersebut, sebagai contoh sederhana, bagi yang memiliki sesuatu yang berharga lebih banyak, maka dianggap oleh yang lain berkedudukan dalam lapisan atas dan begitu pula sebaliknya. Sehingga stratifikasi sosial slalu menyertai suatu masyarakat, baik yang modern maupun tradisional.

LSM DAN NEGARA

Praktikum ke-8                                                                                    Hari/tanggal    : Senin, 22 April 2013
MK Sosiologi Umum (KPM 130)                                Ruangan                      : 2.13

LSM DAN NEGARA
Philip Eldridge

Iis Setiana/G34120092

Asisten        : 1. Bernardine Anita W.          / F24090072
 2. Pamila Adhi Annisa      / I14100064


Resume

Secara terminologi, LSM berasal dari kata Non Gonvernmental Organization (NGO), tetapi nama itu diganti menjadi LSM/LPSM. Hampir setiap LSM cenderung mengadopsi profil karakter nonpolitik yang kini telah berhasil menjadi sebuah saluran absah partisipasi sosial dan politik. Dalam usaha pengembangan masyarakat, umumnya LSM/LPSM menyelenggarakan program-program pembangunan berskala kecil di berbagai bidang, irigasi, air minum, puskesmas, pertanian dan program-program yang meningkatkan penghasilan seperti kerajinan tangan. Mobilisasi semacam ini telah menjamur di berbagai negara, termasuk Indonesia.
LSM dibentuk untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat dan menjadi pengeras suara masyarakat untuk menyuarakan tuntutan perubahan kebijaksanaan kepada pemerintah. Dalam kegiatannya LSM memberikan pengaruh kepada pemerintah dalam mengambil kebijakan dalam program yang pemerintah jalankan. Namun, pemerintah juga harus tetap berusaha mencegah bangkitnya keterlibatan masyarakat yang didasarkan pada kelompok-kelompok yang secara murni mengandalkan kekuatan sendiri. LSM memperoleh biaya operasional terbesar dari donor  luar negeri, seperti Bank Dunia dan pemasukan dari kegiatan konsultasi dan program-program ekonomi, publikasi serta sumbangan dari pengusaha-pengusaha Indonesia.
Terdapat tiga model pendekatan yang dilakukan LSM dalam hal menjalin hubungan dengan pemerintah Indonesia, yakni pertama “Kerjasama tingkat tinggi : pembangunan akar rumput”. Model ini membatasi diri pada upaya untuk memepengaruhi kebijakan melalui badan- badan pemerintah yang secara langsung berkepentingan. Contohnya LSM Bina Swadaya dan Yayasan Indonesia Sejahtera (YIS). Kedua, “Politik tingkat tinggi: mobilisasi akar rumput”. LSM pada model ini biasanya memiliki hubungan baik dan berpengaruh terhadap jaringan militer dan birokrasi serta memantau secara saksama perkembangan politik di Jakarta. Contoh LSM Lembaga Studi Pembangunan, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). Ketiga, “Penguatan di tingkat akar rumput”. LSM pada model ini biasanya menjalani kontak minim dengan badan-badan milik pemerintah dan lebih menekankan pada peningkatan kesadaran masyarakat. Mereka berkeyakinan bahwa kelompok ini akan mampu melahirkan sebuah gerakan masyarakat yang kuat meskipun tidak terstruktur secara informal. Contohnya Kelompok Studi Bantuan Hukum (KSHB) dan Masyarakat pinggir kali di Gondolayu.
Analisis Bacaan
  1. Pengertian birokratisme dan contohnya.

Birokaratisme adalah gejala persoalan yang muncul akibat adanya perkembangan birokrasi yang disebabkan para anggota birokrasi bertindak berbeda dengan maksud sebenarnya (berbeda dari ciri birokrasi). Contohnya adalah:
  1. Pemerintah menetapkan UU Keormasan Tahun 1985 sebagai kontrol terhadap LSM, yang seharusnya bekerja dengan lancar tetapi dipersulit dengan prosedur yang baru.
  2. Pemerintah menciptakan struktur paralel yang bertujuan memobilisasi kelompok-kelompok sasaran seperti pemuda, petani, dan wanita. Ini membuktikan bahwa tujuan pemerintah tidak sesuai dengan enam ciri-ciri birokrasi menurut Weber, 1954. Yang dimana pemerintah telah pandang bulu dalam menjalankan tugasnya. Dalam kenyataannya, organisasi-organisasi bentukan pemerintah ini pada umumnya sekedar menjadi wadah kosong yang tak didukung masyarakat.
  3. Pemerintah terlalu membatasi ruang gerak untuk menyampaikan aspirasi dari LSM sehingga LSM kesulitan dalam melaksanakan program- program yang dapat mendukung program pemerintah dalam menyejahterakan masyarakat.
  4. Pemeritah menarik ulur LSM, di satu sisi pemerintah menghambat kelangsungan proses program- program yang akan dijalankan oleh LSM, namun di sisi lain pemerintah malah memanfaatkan LSM.
  5. Banyaknya LSM yang masih ketergantungan terhadap program pemerintah yang memang menjadi tolak ukur kelemahan dalam organisasi LSM.
  6. Tindakan yang dilakukan oleh Sekkab dalam hubungannya dengan donor luar negeri sering kali tidak mengikuti prosedur yang berlaku, seperti keketatan persyaratan yang tak harus dipenuhi pada setiap tahap.

  1. Bentuk alternatif birokrasi yang ada
Bentuk alternatif birokrasi yang paling sesuai untuk diterapkan adalah pengorganisasian pengelolaan kegiatan dalam bentuk Jejaring Kolaborasi, yaitu LSM/LPSM. Dalam bacaan, membuktikan bahwa penerapan jejaring ini sesuai, karena dapat terdiri dari berbagai pihak yang berbeda, seperti jejaring kolaborasi antar birokrasi pemerintah dengan pihak organisasi bukan pemerintah yaitu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)  itu sendiri. LPSM/LSM dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk alternatif dan birokrasi. Karena, berdasarkan sebab tumbuhnya birokrasi (Schoorl,1982).
1) LSM/LPSM telah mengalami proses Integrasi yaitu telah berhasil mengintegrasikan kedua pendekatan, yaitu pendekatan ‘pembangunan’ dan pendekatan ‘mobilisasi’.
2) LSM/LPSM telah mengalami pembesaran skala yang dimana sekarang telah menjadi luas dan didukung masyarakat.
3) LSM/LPSM merupakan hasil dari proses Diferensiasi.

SISTEM PONDOK

Praktikum ke-7                                                                                    Hari/tanggal    : Senin, 15 April 2013
MK Sosiologi Umum (KPM 130)                                Ruangan                      : 2.13

SISTEM PONDOK
Wariso Ram

Iis Setiana/G34120092

Asisten        : 1. Bernardine Anita W.          / F24090072
 2. Pamila Adhi Annisa      / I14100064


Resume

Sebagian migran sirkuler berasal dari rumah tangga desa yang hidup serba tidak cukup. Keadaan ini mendorong mereka melakukan usaha mandiri secara kecil-kecilan dengan modal tidak begitu besar dan peralatan yang tidak mahal. Para migran sirkuler bergerak dalam bidang "usaha sisa". Para migran sirkuler menghimpun banyak tenaga migran sirkuler dari desa/daerah asal untuk bekerjasama membentuk suatu sistem pondok. Azas kerukunan atau azas kekelargaan menjadi sendi utama, walaupun tujuan utama sistem pondok adalah keuntungan ekonomi.
Berdasarkan besarnya sumbangan tenaga kerja migran sirkuler, sistem pondok dapat digolongkan dalam empat kelompok. Pertama, sistem pondok gotong royong. Dalam sistem pondok ini setiap anggota mempunyai kedudukan sama.  Jumlah anggota kelompok rata-rata kecil, antara 8-12 orang dan hubungan dalam kelompok kuat. Kelompok ini terbentuk dari kesepakatan beberapa penduduk desa untuk membentuk kerjasama dalam jual beli. Kedua, sistem pondok rumah tangga. Jumlah anggota dalam sistem ini biasanya sedikit karena jenis usaha ini tergolong usaha rumah tangga. Antara pemilik pondok boro dengan para pembantunya terdapat hubungan yang dilandasi azas kekeluargaan. Sistem ini biasanya menggunakan tenaga migran sirkuler yang berasal dari desa yang jauh. Pemilik pondok menyediakan penginapan beserta jaminan hidup kepada para migran sirkuler dengan alasan mereka dapat membatu dalam proses produksi agar selesai dalam waktu singkat.
Ketiga, sistem pondok usaha perseorangan. Dalam sistem pondok ini telah dikenal diferensiasi tenaga yang bertugas dalam proses produksi (karyawan) dengan tenaga yang bertugas dalam pemasaran (penjual). Keempat, sistem pondok sewa. Dalam sistem pondok ini pemilik pondok tidak melibatkan diri dalam kegiatan produksi ataupun pemasaran barang. Para migran sirkuler yang tinggal di pondok boro berperan sebagai penyewa. Hubungan yang terjadi antara pemilik pondok boro dengan migran sirkuler adalah hubungan sewa menyewa, maka hubungan tersebut agak renggang. Dilihat dari jenis kegiatan yang dilakukan oleh penghuninya, pondok boro dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu pondok boro buruh, pondok boro penjual dan pondok boro produksi.

Analisis Bacaan

1. Identifikasi grup
1)      Grup migran sirkuler yang berjualan keramik pada sistem pondok gotong royong. Grup ini terbentuk atas dasar kesepakatan para migran sirkuler untuk melakukan kerjasama dalam jual beli hasil kerajinan keramik.
2)      Grup migran sirkuler yang bekerja di pondok boro dalam sistem pondok rumah tangga. Grup ini terbentuk karena para anggota saling membutuhkan satu sama lain. Pemilik pondok menyediakan pondok untuk para migran sirkuler agar mereka membantu bekerja dalam proses produksi.
3)      Grup migran sirkuler produksi tahu dalam sistem pondok usaha perseorangan. Grup ini terbentuk karena adanya diferensiasi tenaga yang bertugas dalam proses produksi (karyawan) dengan pemasaran hasil produksi (penjual).
4)      Grup migran sirkuler produksi tahu dalam sistem pondok sewa. Grup ini terbentuk karena adanya sewa-menyewa antara para migran sirkuler yang tinggal di pondok (penyewa) dengan pemilik pondok.

2. Dasar pembentukan grup
Dasar pembentukan grup dalam bacaan adalah adanya kepentingan bersama, yaitu keinginan untuk memperoleh keuntungan ekonomi dan kesamaan nasib (hidup tidak cukup dan minim modal untuk berwira usaha) mendorong bergabung membentuk sebuah grup (sistem pondok).